Li-Fi
Artikel, Informasi / /
Teknologi Li-Fi yang Hadir dengan Kecepatan Cahaya

Dunia teknologi informasi dan komunikasi memang tidak ada matinya. Memang benar dikatakan bila era sekarang ini adalah era informasi dan komunikasi yang sudah tidak ada yang namanya “batas” lagi untuk mengakses berbagai informasi dan saling berkomunikasi satu sama lain di seluruh belahan dunia. Banyak sekali penemuan – penemuan baru bermunculan, termasuk dalam hal ini perkembangan tukar menukar data.

Jika kita semua dari tahun awal 2000-an sampai sekarang terkenal dengan yang namanya Wi-Fi atau Wireless Fidelity, atau koneksi data nirkabel yang menggunakan gelombang radio yang mana kita tinggal sambungkan ke setiap hotspot Wi-Fi yang ada dalam wilayah radius 100 meter dari sumber.

Maka pada tahun 2011 kemarin, telah ditemukan Li-Fi atau Light Fidelity, atau koneksi data yang menggunakan cahaya. Penemuan ini ditemukan oleh Profesor Harald Haas dari University of Edinburg. Memang sudah lama ditemukan, namun belum ada yang mau mendanai riset milik Profesor Harald tersebut. Hanya pada akhirnya, akhir – akhir ini ada beberapa pengembangan dari Li-Fi yang dikembangkan oleh Oxford University dan College University. Diklaim bahwa kecepatan yang dimiliki Li-Fi bisa mencapai 100 GbPs (GigaByte Per Second), jauh lebih cepat secepat cahaya jika dibandingkan dengan Wi-Fi yang hanya bisa mencapai kecepatan maksimal 100 MbPs (MegaByte Per Second).

Nah, disini kita akan membahas sedikit tentang teknologi Li-Fi yang hadir dengan kecepatan cahaya. Mari kita simak salah satu penemuan besar dalam sejarah dunia teknologi informasi dan komunikasi ini.
Li-Fi atau Light Fidelity, yang merupakan teknologi penukaran data melalui cahaya, maksudya dimana ada cahaya sebagai media pertukaran data. Memang kalau dibandingkan Wi-Fi yang radiusnya besar sekali yaitu sampai radius 100 meter, Li-Fi tidak sampai sejauh itu. Li-Fi mungkin hanya bisa mencakup radius kurang lebih 10 meter untuk bertukar data. Ini dipengaruhi oleh terang redupnya cahaya yang diterima di setiap radius jaraknya.

jarak lifi

Untuk cara kinerjanya, sebuah LED atau detektor foto yang digabungkan menjadi satu perangkat Li-Fi ini bersifat memancarkan cahaya dan menerima cahaya. Yang pertama, pada saat Li-Fi memancarkan cahaya, berarti Li-Fi mengirim cahaya ke perangkat yang ada dalam radiusnya. Yang kedua yaitu proses penerimaan data dari perangkat yang tersambung dalam radiusnya dalam bentuk sinar inframerah dan warna – warna lain. Nah, dengan menggunakan media cahaya inilah mengapa dalam hanya “satu kedipan” maka data dalam jumlah besar bisa dikirim dan diterima. Warna cahaya yang dipancarkan oleh Li-Fi dengan warna cahaya yang diterima oleh Li-Fi itu berbeda, itulah mengapa tidak terjadi crash atau salah dalam lalu lintas data. Setiap hardware dari Li-FI ini menerima dan mengirim data, maka dia akan berkedip. Dan kecepatan kedipan dari bola lampu LED Li-Fi ini adalah nanosecond (1 per 109 detik), sehingga kedipannya tidak bisa dilihat oleh mata manusia.

Itulah sedikit bahasan tentang Li-Fi ini. Begitu tergiur dan menarik untuk dicoba, namun kita harus menunggu sampai teknologi Li-Fi ini diproduksi dan digunakan secara massal. Sehingga nantinya semua orang bisa menikmati kecepatan internet dengan kecepatan cahaya yang mana untuk mendapatkan data tidak membutuhkan waktu yang lama.

Namun kabar baiknya, sebuah startup atau perusahaan baru di Estonia, Velmenni tengah memproduksi sebuah alat seperti bola lampu yang tidak lain adalah hardware dari Li-Fi. Bola lampu ini menggunakan bola lampu LED yang mana di setiap pengiriman data selalu berkedip. Kecepatan kedipannya ini dalam hitungan nanosecond (1 per 109 detik), sehingga tidak bisa dilihat oleh mata manusia kedipannya ini. Namun sekarang ini masih tahap uji coba dan pengembangan tentang hardware Li-Fi ini. Jika berhasil, maka akan diproduksi secara massal.

Kita tunggu saja kabar baiknya. Dan terima kasih telah membaca.