vivo x5 pro
Informasi / /
IDC: Xiaomi dan Lenovo Tersingkir dari Lima Besar Pasar Smartphone

Lembaga riset IDC baru saja merilis data mengenai penjualan smartphone di kuartal pertama 2016. Jika dibanding tahun lalu, penjualan smartphone menunjukkan sedikit peningkatan, dari 334,4 juta menjadi 334,9 juta. Peningkatan yang minim ini menunjukkan adopsi smartphone sudah di zona matang, yang menjelaskan mengapa perusahaan besar seperti Samsung dan Apple mengalami kesulitan meningkatkan jumlah penjualan.

Samsung sendiri masih menjadi produsen smartphone terbesar dunia dengan berhasil mengapalkan 81,9 juta smartphone. Angka itu turun 82,4 yang dicatatkan tahun lalu, meski pada awal tahun kemarin Samsung merilis produk andalannya, Galaxy S7. IDC sendiri menyebut Galaxy S7 dan Galaxy seri J mendapat sambutan baik dari pasar, namun hal itu tidak mampu mengangkat penjualan total smartphone Samsung.

Apple bahkan mencatat penurunan lebih tajam, dari 61,2 juta di Q1 tahun lalu menjadi 51,2 juta di Q2 ini (turun 16,2%). Seperti telah kami tulis, alasan terbesar penurunan ini adalah konsumen tidak tertarik melakukan upgrade dari iPhone 6 ke iPhone 6S mengingat tidak signifikannya peningkatan yang terjadi. iPhone SE yang baru saja dirilis tidak mampu memberikan pengaruh signifikan terhadap penjualan Apple.

Sedangkan posisi ketiga diduduki oleh Huawei. Perusahaan asal Tiongkok ini mencatat peningkatan impresif 58% dari angka 17,4 juta menjadi 27,5 juta unit. IDC menyebut, Huawei berhasil menarik perhatian pasar berkat produk high-end maupun entry-level-nya. Digunakannya perangkat Huawei di Google Nexus 6P semakin menambah brand-awareness konsumen terhadap produk ini.

Fenomena menarik terjadi di peringkat empat dan lima karena tersembul nama Oppo dan Vivo. Keduanya merebut posisi yang sebelumnya ditempati oleh Xiaomi dan Lenovo. Oppo berhasil mengapalkan 18,5 juta unit (naik 153%) sementara Vivo 14,3 juta unit (naik 124%). Kedua merek asal Tiongkok ini berhasil meraih pangsa pasar di negara asalnya, meski Oppo relatif sedikit lebih global karena 20% penjualannya berasal dari luar Tiongkok. Sedangkan Vivo berhasil merebut perhatian pasar berkat smartphone premium dengan kualitas audio yang tinggi.

IDC memperkirakan, smartphone di level US$250 di tahun 2016 ini memiliki potensi lebih tinggi untuk diburu konsumen. Hal ini tentu menjadi kabar baik bagi Huawei, Oppo, dan Vivo yang bermain di kisaran harga tersebut. Namun Xiaomi dan Lenovo tentu saja tidak akan tinggal diam, sehingga kita bisa berharap persaingan mereka di segmen tersebut akan semakin ketat.